Kamis, 19 Januari 2017

Gambaran reward pada anak SDN

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Anak usia sekolah adalah anak dengan usia 7 sampai 15 tahun (termasuk anak cacat) yang menjadi sasaran program wajib belajar pendidikan 9 tahun (Suprajitno, 2004). Dalam proses pembelajaran di sekolah, terutama sekolah dasar, guru merupakan sumber daya yang edukatif sekaligus faktor proses pembalajaran yang utama (Marno dan M. Idris, 2008).  Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar pada setiap individu atau kelompok untuk merubah sikap dari tidak tahu menjadi tahu sepanjang hidupnya.  Sedangkan proses belajar mengajar (PBM) dalam pendidikan formal melibatkan peran aktif pendidik (guru) dan anak didik.  Anak masih membutuhkan rangsangan belajar yang kuat untuk mengembangkan potensi diri agar mampu menyerap dan termotivasi serta memahami setiap materi yang telah disampaikan oleh guru. Perilaku menyimpang yang terjadi pada anak baik dikelas maupun lingkungan sekolah adalah sebuah persoalan yang harus ditangani secara bijak oleh guru atau BK (bimbingan konseling). Penanganan dengan menggunakan fisik akan lebih berdampak negatif bagi perkembangan psikologis anak (Mulyasa, 2011).
Dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Muhammad Yani tahun 2012 pada siswa di SD Negeri 1 Gentan Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah ini diperoleh 8 siswa dengan persentase 38,09% yang tuntas dalam belajarnya setelah mendapatkan reward dan 13 siswa dengan persentase 61,09% yang masih belum tuntas dalam belajarnya.
Fenomena yang terjadi di lapangan banyak kesulitan yang dialami oleh para peserta didik dalam menguasai konsep-konsep materi pelajaran sehingga berpengaruh pada hasil belajar peserta didik, hal ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor dari guru itu sendiri dan dapat pula dari peserta didik. Dari guru antara lain dapat berupa ketidaksesuai antara metode pembelajaran dengan materi yang diajarkan. Sedangkan dari peserta didik antara lain dapat berupa tingkat kemampuan intelegensi Question (IQ) yang berada di bawah normal (Thobroni, 2012:26).  Khusus pada tingkat sekolah dasar, metode pembelajaran yang digunakan harus lebih bervariasi, karena peserta didik sekolah dasar sifatnya masih cenderung ingin bermain, dan mempunyai rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Karena alasan inilah maka seorang guru dasar hendaknya dapat memilih metode yang tepat dengan materi pembelajaran serta dapat menyesuaikan dengan karakteristik siswa. Selain itu di dalam kegiatan belajar mengaajar peran motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi siswa dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar dengan memberikan suatu penghargaan, kepada siswa atau memberikan reward kepada siswa yang berprestasi (Andriani, 2013).   
Pemberian hadiah dan pujian merupakan reward atau penghargaan atas perilaku baik yang dilakukan anak. Hal ini sangat diperlukan dalam hubungannya dengan minat dan penerapan disiplin pada anak. Reward atau penghargaan memiliki tiga fungsi penting dalam mengajari anak berperilaku yang disetujui secara sosial. Fungsi yang pertama ialah memiliki nilai pendidikan. Yang kedua, pemberian reward harus menjadi motivasi bagi anak untuk mengulangi perilaku yang diterima oleh lingkungan atau masyarakat. Melalui reward, anak justru akan lebih termotivasi untuk mengulangi perilaku yang memang diharapkan oleh masyarakat. Fungsi yang terakhir ialah untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial dan tiadanya penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulangi perilaku tersebut. Dengan kata lain, anak akan mengasosiasikan reward dengan perilaku yang disetujui masyarakat (Sulistyowati, 2012)
Agar proses belajar dapat berjalan dengan baik  dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa maka belajar harus dapat menimbulkan reinforcement   (penguatan) dan motivasi yang kuat pada anak didik untuk mencapai tujuan instruksional. Rangsangan untuk meningkatkan motivasi belajar ini salah satunya adalah dengan memberikan reinforcement  berupa pemberian reward (Djamarah 2011).
Berdasarkan uraian diatas, reward juga bisa meningkatkan motivasi belajar maka para guru sebaiknya harus lebih sering memberikan penghargaan. Penghargaan itu sendiri dapat dimaknai sebagai alat pengajaran dalam rangka pengkondisian siswa menjadi senang belajar. Pemberian reward dapat berupa kata-kata pujian, senyuman, tepukan punggung atau bahkan berbentuk materi serta sesuatu yang menyenangkan bagi anak didik. Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin mengetahui bagaimana gambaran reward pada anak SDN .


BAB 2
TINJAUAN TEORI


2.1     Konsep Anak Usia Sekolah
2.1.1    Pengertian Anak Usia Sekolah
                        Menurut UU No. 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak dikutip dari Suprajitno (2004), anak sekolah adalah anak yang memiliki umur 6 sampai 12 tahun yang masih duduk di sekolah dasar dari kelas 1 sampai kelas 6 dan perkembangan sesuai usianya. Anak usia sekolah adalah anak dengan usia 7 sampai 15 tahun (termasuk anak cacat) yang menjadi sasaran program wajib belajar pendidikan 9 tahun.

2.1.2    Ciri-Ciri Anak Usia Sekolah Dasar 
            Menurut Suprajitno (2004) akhir masa kanak-kanak memiliki beberapa ciri antara lain:
1.        Label yang digunakan oleh orang tua
a.         Usia yang menyulitkan dimana suatu masa ketika anak tidak mau lagi menuruti perintah dan ketika anak lebih dipengaruhi oleh teman sebaya dari pada oleh orang tua dan anggota keluarga lain. 
b.        Usia tidak rapi, suatu masa ketika anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh dalam penampilan 
c.         Usia bertengkar, suatu masa ketika banyak terjadi pertengkaran antara keluarga dan suasana rumah yang tidak menyenangkan bagi semua anggota keluarga. 
2.        Label yang digunakan pendidik/guru
a.         Usia sekolah dasar adalah suatu masa ketika anak diharapkan memperoleh dasar pengetahuan yang dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri.
b.        Periode kritis dalam berprestasi merupakan suatu masa ketika anak mencapai sukses, tidak sukses atau sangat sukses.
3.        Label yang digunakan oleh ahli psikologi
a.         Usia berkelompok merupakan suatu masa ketika perhatian utama tertuju pada keinginan diterima oleh teman sebaya sebagai anggota kelompok.
b.        Usia penyesuaian diri adalah suatu masa ketika anak ingin menyesuaikan dengan standar yang disetujui oleh kelompok dalam penampilan, berbicara dan perilaku.
c.         Usia kreatif merupakan suatu masa ketika akan ditentukan apakah anak akan menjadi konfimis.
d.        Usia bermain merupakan suatu masa ketika besarnya keinginan bermain karena luasnya minat dan kegiatan untuk bermain.

2.1.3    Perkembangan Usia Sekolah
1.    Perkembangan biologis 
                   Saat usia dasar pertumbuhan rata-rata 5 cm per tahun untuk tinggi badan dan meningkat 2 sampai 3 kg per tahun untuk berat badan. Pada usia ini pembentukan jaringan lemak lebih cepat perkembangannya dari pada otot. 
2.    Perkembangan psikososial 
                   Menurut Ericson perkembangan psikososialnya berada dalam tahap industri inferior. Dalam tahap ini anak mampu melakukan dam menguasai ketrampilan yang bersifat teknologi dan sosial. Tahap ini sangat dipegang faktor instrinsik (motivasi, kemampuan, tanggung jawab untuk memiliki, interaksi dengan lingkungan dan teman sebaya) dan faktor ekstrinsik (penghargaan yang didapat, stimulus dan keterlibatan orang lain). 
3.    Temperamen
                   Sifat temperamen yang dialami sebelumnya merupakan faktor terpenting dalam perilaku pada masa ini. Pada usia ini temperamen sering muncul sehingga peran orang tua dan guru sangat besar untuk mengendalikannya, yang perlu diperhatikan orang tua adalah menjadi figur dalam sehari. 
4.     Perkembangan kognitif 
                   Menurut Peaget usia ini berada dalam tahap operasional konkret yaitu anak mengekspresikan apa yang dilakukan dengan verbal dan simbol. Selama periode ini kemampuan anak belajar konseptual mulai meningkat dengan pesat dan memiliki kemampuan belajar dari benda, situasi dan pengalaman yang dijumpai.
5.    Perkembangan moral 
                   Pada masa akhir kanak-kanak perkembangan moralnya dikategorikan oleh Kohlberg berada dalam tahap konvensional. Pada tahap ini anak mulai belajar tentang peraturan-peraturan yang berlaku, menerima peraturan. 
6.    Perkembangan spiritual 
            Anak usia sekolah menginginkan segala sesuatu adalah konkret atau nyata dari pada belajar tentang agama. Mereka lebih tertarik terhadap surga dan mereka sehingga cenderung akan melakukan atau mematuhi peraturan, karena takut bila masuk neraka. 
7.    Perkembangan bahasa 
                   Pembicaraan yang dilakukan dalam hidup ini lebih terkendali dan terseleksi karena anak menggunakan pembicaraan sebagai komunikasi. 
8.    Perkembangan sosial
                   Akhir masa kanak-kanak sering disebut usia berkelompok yang ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok. 
9.    Perkembangan seksual 
                   Masa ini anak mulai belajar tentang seksualnya dan teman-temannya, mengembangkan minat-minat sesuai dengan dirinya. 
10.  Perkembangan konsep diri 
                   Perkembangan konsep diri sangat dipengaruhi oleh mutu hubungan dengan orang tua, saudara dan sanak keluarga lainnya. Saat ini anak-anak membentuk konsep diri yang ideal.
(Suprajitno, 2004) 
2.1.4    Masalah Anak Usia Sekolah Dasar
Menurut Suprajitno (2004) masalah–masalah yang sering terjadi pada anak usia ini meliputi bahaya fisik dan psikologi antara lain:
1.    Bahaya fisik 
a.    Penyakit
            Penyakit infeksi pada usia ini jarang sekali terjadi, penyakit yang sering ditemui adalah penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri anak. 
b.    Kegemukan
            Kegemukan terjadi bukan karena adanya perubahan pada kelenjar tapi akibat banyaknya karbohidrat yang dikonsumsi sehingga anak kesulitan mengikuti kegiatan bermain, sehingga kehilangan kesempatan untuk mencapai ketrampilan yang penting untuk keberhasilan sosial. 
c.    Kecelakaan
            Kecelakaan terjadi akibat keinginan anak untuk bermain yang menghasilkan ketrampilan tertentu. 
d.    Kecanggungan
            Pada masa ini anak mulai membandingkan kemampuannya dengan teman sebaya bila muncul perasaan tidak mampu dapat menjadi dasar untuk rendah diri. 



e.    Kesederhanaan
            Kesederhanaan sering dilakukan oleh anak-anak pada masa apapun. Orang yang lebih dewasa memandangnya sebagai perilaku yang kurang menarik, sehingga anak menafsirkan sebagai penolakan yang dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri pada anak.
2.    Bahaya Psikologi 
a.    Bahaya dalam berbicara 
                   Kesalahan dalam berbicara seperti salah ucap dan kesalahan bahasa, cacat dalam bicara seperti gagap atau pelat, akan membuat anak menjadi sadar diri sehingga anak hanya berbicara bila perlu saja. 
b.    Bahaya emosi 
                   Anak masih menunjukkan pola-pola ekspresi emosi yang kurang menyenangkan seperti marah yang meledak-ledak, cemburu sehingga kurang disenangi orang lain. 
c.         Bahaya konsep diri
                   Anak mempunyai konsep diri yang ideal, biasanya merasa tidak puas pada diri sendiri dan pada perlakuan orang lain. Anak cenderung berprasangka dan bersikap diskriminatif dalam memperlakukan orang lain.
d.    Bahaya yang menyangkut minat 
                   Tidak minat pada hal-hal yang dianggap penting oleh teman sebaya dan mengembangkan.
2.1.5    Kebutuhan Anak Sekolah Dasar
1.    Menurut Soetjiningsih (1998), anak tidak bisa memperjuangkan nasibnya sendiri, mereka sangat lemah, mereka menderita akibat distribusi sumber daya yang tidak merata sehingga mereka sangat tergantung bagaimana kita memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan mereka, salah satu kebutuhan dasar anak antara lain pendidikan dasar, meliputi meningkatkan kesempatan belajar untuk anak, pendidikan dimulai sejak dini dilanjutkan dengan pendidikan dasar untuk meningkatkan kecerdasan bangsa.
2.   Menurut Nelson (1999), kebutuhan anak antara lain:
       Keberhasilan atau hygiene dan sanitasi lingkungan. Hygiene merupakan kebutuhan anak karena bila kebersihan anak kurang, maka akan mempengaruhi tumbuh kembangnya dan rentan terhadap penyakit.

2.1.6    Konsep Prilaku Anak Usia Sekolah
Menurut Soekidjo Notoatmojo (2003), Usia 6-12 tahun anak sudah memiliki dunia sekolah yang lebih serius walaupun ia tetap seorang anak dengan dunia yang khas, masa ini ditandai dengan perubahan dalam kemampuan dan perilaku. Pertumbuhan dan perkembangan anak membuatnya lebih siap untuk belajar dibanding sebelumnya, anak jiga mengembangkan keinginan untuk melakukan berbagai hal dengan baik bahkan bila mungkin enggan sempurna. Karakteristik anak usia sekolah jelas berbeda dengan anak prasekolah sehingga orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda disbanding sebelumnya ketika anak masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Karena waktu anak sekarang lebih banyak dilewatkan diluar rumah sehingga orang tua khwatir anak tercemar pengaruh yang tidak diinginkan. Perkembangan anak sekolah meliputi perkembangan kognitif dan sosial emosi.
1.        Perkembangan Kognitif 
                           Anak usia 10-12 tahun atau praremaja sudah mulai menggunakan logikanya Karen amereka sudah mahir berhitung dan kemampuan ini dapat diterapkan dalam kehidupan setiap hari. Mereka juga mulai bisa diberi pengertian untuk menghemat dengan memberitahukan secara garis besar pemasukan dan pengeluaran keluarga setiap bulan anak juga semakin mamapu merencanakan perilaku yang terorganisir, temasuk menerima rencana atau tujuan beraktivitas dan menghubungkan pengetahuan serta tindakan dalam rencana tesebut. Perkembangan kognitif pada akhir usia sekolah adalah pencapaian prestasi dan sebagian anak juga memiliki motivasi yang amat tinggi untuk mencapai sukses dan berusaha keras untuk mencapainya. 
2.        Perkembangan Sosial Emosi 
                   Akhir usia sekolah anak sudah memiliki kemampuan untuk mengontrol dirinya dalam berempati dan merefleksi dirinya terhadap perilaku dan interaksinya. Menurut piaget anak usia praremaja mulai belajar melihat dunia luar dari kacamata mereka sendiri karena masalah yang dihadapi saat anak duduk dikelas 4,5, dan 6 Sekolah Dasar pada umumnya adalah kesulitan berhubungan dengan orang dewasa selain anggota keluarganya. Persaingan dapat memberi pengaruh positif bagi perkembangan sosial ekonomi anak karena saat anak duduk dikelas 4-6 SD anak telah memandang kegagalan atau keberhasilannya dengan penuh percaya diri.
3.    Keperawatan Kesehatan Sekolah
                     Keperawatn kesehatan sekolah merupakan salah satu area dalam keperawatan komunitas yang lebih difokuskan dalam upaya pencegahan dan penatalaksanaan penyakit menular dengan menekankan pada upaya preventif dan kuratif. Perspektif keperawatan sekolah adalah bagaiman mengintegrasikan konsep kesehatan dalam kurikulum sekolah melalui berbagai usaha dalam penemuan dini gangguan kesehatan (case finding), upaya pemeliharaan kesehatan dan lingkungan sekolah. Perawatan kesehatan sekolah berperan dalam pelaksanaan EPSDT yaitu Early And Periodic Screening, Diagnosis And Treatment Health Problem.
                   Program kesehatan sekolah sangat penting untuk diaplikasikan karena siswa sekolah sebagai kelompok khusus membutuhkan perlindungan dari berbagai efek buruk linkungan sekitar mereka. Siswa sekolah juga membutuhkan kesehatan agar dapat belajar secara efektif, sehingga menjadi sumber daya yang bermutu.Tujuan kesehatan sekolah difokuskan pada:
1)        Upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
2)        Mengidentifikasi masalah kesehatan dan mencari upaya pemecahan masalah kesehatan.
3)        Memberikan pendidikan kesehatan tentang pola hidup yang lebih sehat kepada siswa dan keluarga.
            Untuk mencapai upaya tersebut diperlukan program kesehatan sekolah yang komprehensif, meliputi:
1)    Pelayanan kesehatan
2)    Pendidikan kesehatan
3)    Peningkatan kesehatan lingkungan
4)    Aktifitas latihan fisik
5)    Pelayanan bimbingan dan konseling psikologis
6)    Pelayanan makanan yang sehat untuk civitas sekolah
7)    Pelayanan pekerja sosial
8)    Tenaga promosi kesehatan
9)    Keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam peningkatan kesehatan sekolah

2.1.7    Pengukuran sikap atau prilaku
Pengukuran sikap atau prilaku dapat dilakukan dengan memberikan seperangkat alat tes/kuesioner tentang obyek perilaku atau sikap yang akan diukur. Selanjutnya dilakukan penilaian dimana setiap jawaban yang benar dari masing-masing pertanyaan diberi nilai 1 jika salah diberi nilai 0 (Notoatmodjo, 2003).
Selanjutnya pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterprestasikan dengan skala Skor T. Penggunaan praktis dari skor T adalah untuk mengkategorikan sikap, minat, bakat, motivasi dalam kategori dikotomi yaitu positif maupun negatif. Pengkategorian didasarkan atas mean T atau media T dikatakan :
1)        Positif/mendukung bila skor T responden > mean T
2)        Negatif/tidak mendukung bila skor T responden < mean T
 (Handoko, 2010 : 22)
2.2     Penghargaan (Reward)
2.2.1    Definisi Penghargaan (Reward)
                        Dalam bahasa Indonesia disebutkan bahwa ganjaran adalah hadiah (sebagai pembalasan jasa), hukuman (balasan). Dari definisi ini dapat dipahami bahwa ganjaran dalam bahasa Indonesia bisa dipakai untuk balasan  yang baik maupun yang buruk. Dalam pembahasan yang lebih luas pengertian istilah ganjaran dapat dilihat sebagai berikut:
1.        Ganjaran adalah alat pendidikan preventif dan represif yang menyenangkan dan bisa menjadi atau motivator belajar bagi siswa.
2.        Ganjaran adalah hadiah terhadap perilaku baik dari anak didik dalam proses pendidikan.
3.        Ganjaran adalah alat pendidikan represif yang menyenangkan.
Ganjaran diberikan kepada anak yang telah menunjukkan hasil-hasil baik dalam pendidikannya. Baik dalam hal kerajinannya, kelakuannya, tingkah lakunnya, dengan singkat, hal-hal yang menyangkut, kepribadiannya, maupun baik dalam hal-hal berprestasi belajarnya. Atau dapat dikatakan ganjaran adalah penilaian yang bersifat positif terhadap belajarnya murid (Amir, 2004: 127).
Jadi maksud ganjaran itu yang terpenting bukanlah hasilnya yang dicapai seorang anak, melainkan dengan hasil yang telah dicapai anak itu. Pendidikan bertujuan membentuk kata hati dan kemauan yang lebih baik dan lebih keras pada anak itu.
Jika ganjaran itu alat mendidk, ganjaran tidak boleh menjadi bersifat sebagai “upah”. Upah ialah sesuatu yang mempunyai nilai sebagai ganti rugi dari suatu pekerjaan atau suatu jasa.  Upah adalah sebagai pembayar suatu tenaga kerja, pikiran, atau pekerjaan yang telah dilakukan oleh seseorang. Besar kecilnya upah memiliki perbandingan yang tertentu dengan berat ringannya pekerjaan atau banyak sedikitnya hasil yang telah dicapai seorang anak yang pada suatu ketika menunjukkan hasil yang lebih dari pada biasanya, mungkin sangat baik diberi ganjaran. Dalam hal ini guru hendaknya bijaksana jangan sampai ganjaran itu menimbulkan iri hati pada anak yang lain yang merasa dirinya lebih baik atau pandai, tetapi tidak mendapat ganjaran. Adakalnya seorang guru perlu pula member ganjaran kepada seluruh kelas  (M. Ngalim Purwanto, 2003: 182).
Jadi dapat disimpulkan bahwa reward adalah suatu cara yang digunakan oleh seseorang untuk memberikan sutu penghargaan kepada seseorang karena sudah mengerjakan suatu hal yang benar, sehingga seseorang itu bias semangat lagi dalam mengerjakan tugas tersebut. Contohnya seorang guru telah memberikan penghargaan atau pujian kepada siswannya yang telah menjawab pertanyaan dengan baik, maka siswa itu semangat lagi dalam mengerjakan tugas.
Reward merupakan respon terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulang kembali perilaku tersebut. Reward dapat dilakukan secara verbal ataupun non verbal dengan prinsip kehangatan, keantusiasan dan kebermaknaan (Mulyasa, 2011: 77).
Reward ialah respon positif terhadap suatu tingkah laku tertentu dari siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali (Buchari Alma, 2008: 30).
Dalam kegiatan belajar mengajar, reward (penguatan positif) mempunyai arti penting. Tingkah laku dan penampilan siswa yang baik, diberi penghargaan dalam bentuk senyuman ataupun kata-kata pujian. Pemberian reward dalam kelas akan mendorong siswa meningkatkan usahanya dalam kegiatan belajar mengajar dan mengembangkan hasil belajar (Mulyadi, 2009: 36).




2.2.2    Tujuan Reward
Menurut Buchari Alma tujuan dari adanya reward yaitu:
1.        Meningkatkan perhatian siswa.
2.        Memperlancar atau memudahkan proses belajar.
3.        Membangkitkan dan mempertahankan motivasi.
4.        Mengontrol dan mengubah sikap suka mengganggu dan menimbulkan tingkah laku belajar yang produktif.
5.        Mengembangkan dan mengatur diri sendiri dalam belajar
6.        Mengarahkan kepada cara berfikir yang baik/ divergen dan inisiatif pribadi.
       (Buchari Alma, 2008: 30)
Menurut Mulyadi adapun komponen-komponen yang perlu dipahami dan dikuasai penggunannya oleh guru agar ia dapat memberikan penguatan secara bijaksana adalah:
1.        Penguatan variabel yaitu penguatan berupa kata-kata, pujian, pengakuan, dorongan yang dipergunakan untuk menguatkan tingkah laku dan penampilan siswa.
2.        Penguatan non variabel yaitu penguatan berupa mimik dan gerakan badan, penguatan dengan cara mendekati, penguat dengan bentukan, penguat dengan kegiatan yang menyenangkan dan penguat berupa symbol atau benda.
(Mulyadi, 2009: 37)



Menurut Buchari Alma komponen reward terdiri dari:
a.         Verbal Reinforcement meliputi komentar ungkapan pujian seperti baik, bagus, hebat, benar sekali.
b.        Gestural Reinforcement meliputi senyum, mengangkat alis, tepuk tangan, menunjuk, anggukan.
c.         Proximity reinforcemen meliputi berjalan mendekati, berdiri didekati, duduk dekat kelompok, berdiri diantara siswa.
       (Buchari Alma, 2008: 31)

2.2.3    Macam-Macam Reward         
Menurut Amier Daien ganjaran yang kita berikan kepada murid dapat berupa macam-macam. Namun pada garis besarnya, kita dapat membedakan ganjaran itu kedalam empat macam yaitu:
1)        Pujian
                   Pujian adalah suatu bentuk ganjaran yang paling mudah dilaksanakan. Pujian dapat berupa kata-kata seperti: baik, bagus, bagus sekali dan sebagainya, tetapi dapat juga berupa kata-kata yang bersifat segustif, misalnya: nah, lain kali akan lebih baik lagi, kiranya kau sekarang telah lebih rajin belajar dan sebagainya. Disamping yang berupa kata-kata, pujian dapat pula berupa isyarat-isyarat atau pertanda-pertanda. Misalnya dengan menunjukkan ibu jari atau jempol, dengan menepyuk bahu anak, dengan tepuk tangan dan sebagainya.



2)        Penghormatan
                   Ganjaran yang berupa penghormatan ini dapat berbentuk dua macam pula. Pertama berbentuk semacam penobatan. Yaitu anak yang mendapat penghormatan diumumkan dan ditampilkan dihadapan teman-temannya. Dapat juga dihadapkan teman-teman sekelas maupun temen-teman sekolah. Kedua, penghormatan yang berbentuk pemberian kekuasaan untuk melakukan sesuatu. Misalnya, kepada anak yang berhasil menyelesaikan suatu soal yang sulit, disuruh mengerjakannya dipapan tulis untuk dicontoh teman-temannya. Anak yang rajin diserahi wewenang atau tugas mengurus perpustakaan sekolah.
3)        Hadiah
                 Yang dimaksud dengan hadiah disini adalah ganjaran yang berbentuk pemberian yang berupa barang. Ganjaran yang berupa pemberian barang ini disebut juga ganjaran materil. Ganjaran materil, yaitu hadiah yang berupa barang-barang ini dapat terdiri dari alat-alat keperluan sekolah, seperti pensil, penggaris, buku tulis, buku pelajaran, dan lain sebagainya. Pemberian ganjaran yang berupa barang ini sering mendatangkan pengaruh yang negative pada belajar siswa. Yaitu bahwa hadiah itu lalu menjadi tujuan dari belajar anak. Anak belajar bukan karena ingin menambah pengetahuan, tetapi belajar dengan tujuan ingin mendapatkan hadiah. Jadi berikan hadiah berupa barang ini jika dianggap perlu, dan pilihlah pada saat yang tepat. Misalnya, kepada anak yang kurang mampu, menjelang waktu Hari Raya Tahun Baru.
4)        Tanda Penghargaan
                   Jika hadiah adalah ganjaran yang berupa barang, maka tanda penghargaan adalah kebalikannya. Tanda penghargaan tidak nilai dari segi harga dan kegunaan barang-barang tersebut, seperti halnya pada hadiah. Melainkan, tanda penghargaan dinilai dari segi kesan atau nilai-kenagnya. Oleh karna itu ganjaran atau tanda penghargaan ini disebut juga ganjaran symbolis. Ganjaran symbolis ini dapat berupa surat-surat tanda penghargaan, surat-surat tanda dan jasa, sertifikat-sertifikat, piala-pialandan sebagainya.
       (Amir, 2004: 159)
Menurut M. Ngalim Purwanto untuk menentukan ganjaran macam apakah yang baik diberikan kepada anak merupakan suatu hal yang sulit. Ganjaran sebagai alat pendidikan banyak sekali macamnya. Sebagai contoh beberapa macam perbuatan atau sikap pendidik yang dapat merupakan ganjaran bagi anak didiknya:
1.        Guru mengangguk-angguk tanda senang dan membenarkan sesuatu jawaban yang diberikan oleh seorang anak.
2.        Guru memberi kata-kata yang menggembirakan (pujian) seperti “rupanya sudah baik tulisanmu, Min. Kalau kamu terus berlatih, akan lebih baik lagi.
3.        Pekerjaan dapat juga menjadi suatu ganjaran. Contoh: “ engkau akan segera saya beri soal yang lebih sedikit sukar lagi, ali, karena yang nomor 3 ini rupa-rupanya agak terlalu baik engkau mengerjakannya.
4.        Ganjaran yang ditunjukkan kepada seluruh kelas sangat perlu. Misalnya “ karena saya lihat kalian telah bekerja dengan baik dan lekas selesai, sekarang saya akan mengisahkan sebua cerita yang bagus sekali”. Ganjaran untuk seluruh kelas dapat juga berupa bernyanyi atau pergi berdarmawisata.
5.        Gajaran dapat juga berupa benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak-anak. Misalnya, pensil, buku tulis, gula-gula atau makanan yang lain. Tetapi dalam hal ini guru harus sangat berhati-hati dan bijaksana sebab dengan benda-benda itu mudah benar ganjaran berubah menjadi upah bagi siswa.
       (M. Ngalim Purwanto, 2005: 183)
2.2.4    Prinsip-Prinsip Pengunaan Reward
Menurut Buchari Alma prinsip pengguna reward yaitu:
1.        Penuh hangat, antusias dan jujur.
2.        Hindari kritikan dan hukuman.
3.        Bervariasi.
4.        Penuh arti bagi siswa.
5.        Bersifat pribadi.
6.        Langsung atau segera.
       ( Buchari Alma, 2008: 32)
Menurut Mulyadi beberapa prinsip yang melandasi penggunaa reward yaitu:
1.        Kehangatan.
2.        Kebermaknaan.
3.        Menghindari penggunaa respon negatif
( Mulyadi, 2009: 39).

2.2.5    Syarat-syarat ganjaran
Kalau kita perhatikan yang telah diuraikan tentang maksud ganjaran, bilamana dan siapa yang perlu mendapat ganjaran, serta ganjaran-ganjaran macam apakah yang baik diberikan kepada seseorang, ternyata bahwa memberi ganjaran bukanlah soal yang mudah. Ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan oleh pendidik:
1.        Untuk memberi ganjaran yang pedagosis perlu sekali guru mengenal betul murid-muridnya dan tahu mengarahi dengan tepat. Ganjaran dan penghargaan yang salah dan tidak tepat dapat membawa akibat yang tidak diiiginkan.
2.        Ganjaran yang diberikan kepada seorang anak janganlah hendaknya menimbulkan rasa cemburu atau iri hati bagi anak yang lain yang meradsa pekerjaanya juga lebih baik, tetapi tidak mendapat ganjaran.
3.        Memberi ganjaran hendaknya hemat. Terlalu kerap atau terus menerus memberi ganjaran dan penghargaan akan menjadi hilang arti ganjaran itu sebagai alat pendidikan.
4.        Jangan memberi ganjaran dengan menjanjikan lebih dahulu sebelum anak-anak menunjukkan prestasi kerjannya apa lagi bagi ganjaran yang diberikan diseluruh kelas. Ganjaran yang telah dijanjikan terlebih dahulu, hanyalah akan membuat anak-anak berburu-buru dalam bekerja dan akan membawa kesukaran bagi beberapa orang  anak yang kurang pandai.
5.        Pendidik harus berhati-hati memberikan ganjaran, jangan sampai ganjaran yang diberikan kepada anak-anak diterimannya sebagai upah dari jerih payah yang telah dilakukannya.
       (Mulyadi, 2009:184).

2.2.6        Cara mengaplikasikan ganjaran
Berbagai macam cara yang dapat dilakukan dalam memeberi ganjaran antara lain:
1.        Pujian yang indah, diberikan agar anak lebih bersemangat dalam belajar.
2.        Imbalan materi atau hadiah, karena tidak sedikit anak-anak yang termotivasi dengan pemberian hadiah.
3.        Doa, misalnya “semoga Allah SWT menambah kebaikan padamu “.
4.        Tanda penghargaan, hal ini sekaligus menjadikan kenang-kenangan bagi murid atas prestasinya yang diperoleh.
5.        Wasiat kepada orang tua, maksudnya melaporkan segala sesuatu yang berkenan dengan kebaikan murid sekolah, kepada orang tuannya dirumah.
       (Arief Armai, 2002: 127)

2.2.7    Kelebihan dan Kekurangan
Sebagaimana pendekatan-pendekatan pendidk yang lainnya, pendekatan ganjaran juga tidak bisa terlepas dari kelebihan dan kelemahan. Untuk lebih jelasnya, akan dikemukakan sebagai berikut:
1.        Kelebihan
Diakui bahwa pendekatan ganjaran memiliki banyak kelebihan, namun secara umum dapat disebut sebagai berikut:
a)        Memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap jiwa anak didk untuk melakukan perbuatan yang positif dan besifat progresif.
b)        Dapat menjadi pendorong bagi anak-anak didik lainnya untuk mengikuti anak yang telah memperoleh pujian dari gurunya, baik dalam tingkah laku, sopan santun ataupun semangat dan motivasinya dalam berbuat yang lebih baik lagi.
2.        Kekurangan
Disamping mempunyai kelebihan pendekatan ganjaran juga memiliki kelemahan antara lain:
a)        Dampak menimbulkan dampak negatif apa bila guru melakukannya secara berlebihan, sehingga mungkin bisa mengakibatkan murid menjadi merasa bahwa dirinya lebih tinggi dari teman-temannya.
b)        Umumnya ganjaran membutuhkan alat tertentu

       (Mulyadi, 2009 : 128).