BAB
1
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Anak usia sekolah adalah anak dengan usia 7
sampai 15 tahun (termasuk anak cacat) yang menjadi sasaran program wajib
belajar pendidikan 9 tahun (Suprajitno, 2004). Dalam proses pembelajaran di sekolah, terutama
sekolah dasar, guru merupakan sumber daya yang edukatif sekaligus faktor proses
pembalajaran yang utama (Marno dan M. Idris, 2008). Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar pada setiap
individu atau kelompok untuk merubah sikap dari tidak tahu menjadi tahu
sepanjang hidupnya. Sedangkan proses belajar mengajar (PBM) dalam
pendidikan formal melibatkan peran aktif pendidik (guru) dan anak didik. Anak masih membutuhkan rangsangan
belajar yang kuat untuk mengembangkan potensi diri agar mampu menyerap dan
termotivasi serta memahami setiap materi yang telah disampaikan oleh guru.
Perilaku menyimpang yang terjadi pada anak baik dikelas maupun lingkungan sekolah
adalah sebuah persoalan yang harus ditangani secara bijak oleh guru atau BK
(bimbingan konseling). Penanganan dengan menggunakan fisik akan lebih berdampak
negatif bagi perkembangan psikologis anak (Mulyasa, 2011).
Dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Muhammad Yani tahun 2012 pada siswa di SD Negeri 1 Gentan Kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah
ini diperoleh 8 siswa dengan persentase 38,09% yang tuntas dalam belajarnya
setelah mendapatkan reward dan 13
siswa dengan persentase 61,09% yang masih belum tuntas dalam belajarnya.
Fenomena yang terjadi di
lapangan banyak kesulitan yang dialami oleh para peserta didik dalam menguasai
konsep-konsep materi pelajaran sehingga berpengaruh pada hasil belajar peserta
didik, hal ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor dari guru itu sendiri
dan dapat pula dari peserta didik. Dari guru antara lain dapat berupa
ketidaksesuai antara metode pembelajaran dengan materi yang diajarkan.
Sedangkan dari peserta didik antara lain dapat berupa tingkat kemampuan intelegensi Question (IQ) yang berada di
bawah normal (Thobroni, 2012:26). Khusus
pada tingkat sekolah dasar, metode pembelajaran yang digunakan harus lebih
bervariasi, karena peserta didik sekolah dasar sifatnya masih cenderung ingin
bermain, dan mempunyai rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Karena alasan inilah maka
seorang guru dasar hendaknya dapat memilih metode yang tepat dengan materi pembelajaran
serta dapat menyesuaikan dengan karakteristik siswa. Selain itu di dalam
kegiatan belajar mengaajar peran motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik
sangat diperlukan. Dengan motivasi siswa dapat mengembangkan aktivitas dan
inisiatif, mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan
belajar dengan memberikan suatu penghargaan, kepada siswa atau memberikan reward kepada siswa yang berprestasi (Andriani,
2013).
Pemberian hadiah dan pujian merupakan reward
atau penghargaan atas perilaku baik yang dilakukan anak. Hal ini sangat
diperlukan dalam hubungannya dengan minat dan penerapan disiplin pada anak. Reward
atau penghargaan memiliki tiga fungsi penting dalam mengajari anak berperilaku
yang disetujui secara sosial. Fungsi yang pertama ialah memiliki nilai
pendidikan. Yang kedua, pemberian reward harus menjadi motivasi bagi anak untuk mengulangi
perilaku yang diterima oleh lingkungan atau masyarakat. Melalui reward,
anak justru akan lebih termotivasi untuk mengulangi perilaku yang memang
diharapkan oleh masyarakat. Fungsi yang terakhir ialah untuk memperkuat
perilaku yang disetujui secara sosial dan tiadanya penghargaan melemahkan
keinginan untuk mengulangi perilaku tersebut. Dengan kata lain, anak akan
mengasosiasikan reward dengan perilaku yang disetujui masyarakat (Sulistyowati, 2012)
Agar proses belajar dapat berjalan dengan
baik dan dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa maka belajar harus dapat menimbulkan reinforcement (penguatan) dan motivasi
yang kuat pada anak didik untuk mencapai tujuan
instruksional. Rangsangan untuk meningkatkan motivasi
belajar ini salah satunya adalah dengan memberikan reinforcement berupa pemberian reward (Djamarah 2011).
Berdasarkan uraian diatas, reward juga bisa meningkatkan motivasi belajar maka para guru
sebaiknya harus lebih sering memberikan penghargaan. Penghargaan itu sendiri
dapat dimaknai sebagai alat pengajaran dalam rangka pengkondisian siswa menjadi
senang belajar. Pemberian reward dapat berupa
kata-kata pujian, senyuman, tepukan punggung atau bahkan berbentuk materi serta
sesuatu yang menyenangkan bagi anak didik. Berdasarkan hal tersebut peneliti ingin mengetahui
bagaimana gambaran reward pada anak
SDN .
BAB 2
TINJAUAN
TEORI
2.1 Konsep Anak Usia Sekolah
2.1.1 Pengertian Anak Usia Sekolah
Menurut
UU No. 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak dikutip dari Suprajitno (2004),
anak sekolah adalah anak yang memiliki umur 6 sampai 12 tahun yang
masih duduk di sekolah dasar dari kelas 1 sampai kelas 6 dan perkembangan
sesuai usianya. Anak usia sekolah adalah anak dengan usia 7 sampai 15 tahun
(termasuk anak cacat) yang menjadi sasaran program wajib belajar pendidikan 9
tahun.
2.1.2 Ciri-Ciri Anak Usia Sekolah Dasar
Menurut Suprajitno (2004) akhir
masa kanak-kanak memiliki beberapa ciri antara lain:
1.
Label yang digunakan
oleh orang tua
a.
Usia yang menyulitkan
dimana suatu masa ketika anak tidak mau lagi menuruti perintah dan ketika anak
lebih dipengaruhi oleh teman sebaya dari pada oleh orang tua dan anggota
keluarga lain.
b.
Usia tidak rapi, suatu
masa ketika anak cenderung tidak memperdulikan dan ceroboh dalam
penampilan
c.
Usia bertengkar, suatu
masa ketika banyak terjadi pertengkaran antara keluarga dan suasana rumah yang
tidak menyenangkan bagi semua anggota keluarga.
2.
Label yang digunakan
pendidik/guru
a.
Usia sekolah dasar
adalah suatu masa ketika anak diharapkan memperoleh dasar pengetahuan yang
dianggap penting untuk keberhasilan penyesuaian diri.
b.
Periode kritis dalam
berprestasi merupakan suatu masa ketika anak mencapai sukses, tidak sukses atau
sangat sukses.
3.
Label yang digunakan
oleh ahli psikologi
a.
Usia berkelompok
merupakan suatu masa ketika perhatian utama tertuju pada keinginan diterima
oleh teman sebaya sebagai anggota kelompok.
b.
Usia penyesuaian diri
adalah suatu masa ketika anak ingin menyesuaikan dengan standar yang disetujui
oleh kelompok dalam penampilan, berbicara dan perilaku.
c.
Usia kreatif merupakan
suatu masa ketika akan ditentukan apakah anak akan menjadi konfimis.
d.
Usia bermain merupakan
suatu masa ketika besarnya keinginan bermain karena luasnya minat dan kegiatan
untuk bermain.
2.1.3 Perkembangan Usia Sekolah
1. Perkembangan biologis
Saat
usia dasar pertumbuhan rata-rata 5 cm per tahun untuk tinggi badan dan
meningkat 2 sampai 3 kg per tahun untuk berat badan. Pada usia ini pembentukan
jaringan lemak lebih cepat perkembangannya dari pada otot.
2. Perkembangan psikososial
Menurut
Ericson perkembangan psikososialnya berada dalam tahap industri inferior. Dalam
tahap ini anak mampu melakukan dam menguasai ketrampilan yang bersifat
teknologi dan sosial. Tahap ini sangat dipegang faktor instrinsik (motivasi,
kemampuan, tanggung jawab untuk memiliki, interaksi dengan lingkungan dan teman
sebaya) dan faktor ekstrinsik (penghargaan yang didapat, stimulus dan
keterlibatan orang lain).
3. Temperamen
Sifat
temperamen yang dialami sebelumnya merupakan faktor terpenting dalam perilaku
pada masa ini. Pada usia ini temperamen sering muncul sehingga peran orang tua
dan guru sangat besar untuk mengendalikannya, yang perlu diperhatikan orang tua
adalah menjadi figur dalam sehari.
4. Perkembangan
kognitif
Menurut
Peaget usia ini berada dalam tahap operasional konkret yaitu anak
mengekspresikan apa yang dilakukan dengan verbal dan simbol. Selama periode ini
kemampuan anak belajar konseptual mulai meningkat dengan pesat dan memiliki
kemampuan belajar dari benda, situasi dan pengalaman yang dijumpai.
5. Perkembangan
moral
Pada
masa akhir kanak-kanak perkembangan moralnya dikategorikan oleh Kohlberg berada
dalam tahap konvensional. Pada tahap ini anak mulai belajar tentang
peraturan-peraturan yang berlaku, menerima peraturan.
6. Perkembangan
spiritual
Anak
usia sekolah menginginkan segala sesuatu adalah konkret atau nyata dari pada
belajar tentang agama. Mereka lebih tertarik terhadap surga dan mereka sehingga
cenderung akan melakukan atau mematuhi peraturan, karena takut bila masuk
neraka.
7. Perkembangan
bahasa
Pembicaraan
yang dilakukan dalam hidup ini lebih terkendali dan terseleksi karena anak
menggunakan pembicaraan sebagai komunikasi.
8. Perkembangan
sosial
Akhir
masa kanak-kanak sering disebut usia berkelompok yang ditandai dengan adanya
minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk
diterima sebagai anggota kelompok.
9. Perkembangan
seksual
Masa
ini anak mulai belajar tentang seksualnya dan teman-temannya, mengembangkan
minat-minat sesuai dengan dirinya.
10. Perkembangan
konsep diri
Perkembangan
konsep diri sangat dipengaruhi oleh mutu hubungan dengan orang tua, saudara dan
sanak keluarga lainnya. Saat ini anak-anak membentuk konsep diri yang ideal.
(Suprajitno,
2004)
2.1.4 Masalah Anak Usia Sekolah Dasar
Menurut Suprajitno
(2004) masalah–masalah yang sering terjadi pada anak usia ini meliputi bahaya
fisik dan psikologi antara lain:
1. Bahaya
fisik
a. Penyakit
Penyakit infeksi pada usia ini jarang sekali terjadi, penyakit yang sering ditemui adalah penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri anak.
Penyakit infeksi pada usia ini jarang sekali terjadi, penyakit yang sering ditemui adalah penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri anak.
b. Kegemukan
Kegemukan terjadi bukan karena adanya perubahan pada kelenjar tapi akibat banyaknya karbohidrat yang dikonsumsi sehingga anak kesulitan mengikuti kegiatan bermain, sehingga kehilangan kesempatan untuk mencapai ketrampilan yang penting untuk keberhasilan sosial.
Kegemukan terjadi bukan karena adanya perubahan pada kelenjar tapi akibat banyaknya karbohidrat yang dikonsumsi sehingga anak kesulitan mengikuti kegiatan bermain, sehingga kehilangan kesempatan untuk mencapai ketrampilan yang penting untuk keberhasilan sosial.
c. Kecelakaan
Kecelakaan terjadi akibat keinginan anak untuk bermain yang menghasilkan ketrampilan tertentu.
Kecelakaan terjadi akibat keinginan anak untuk bermain yang menghasilkan ketrampilan tertentu.
d. Kecanggungan
Pada masa ini anak mulai membandingkan kemampuannya dengan teman sebaya bila muncul perasaan tidak mampu dapat menjadi dasar untuk rendah diri.
Pada masa ini anak mulai membandingkan kemampuannya dengan teman sebaya bila muncul perasaan tidak mampu dapat menjadi dasar untuk rendah diri.
e. Kesederhanaan
Kesederhanaan sering dilakukan oleh anak-anak pada masa apapun. Orang yang lebih dewasa memandangnya sebagai perilaku yang kurang menarik, sehingga anak menafsirkan sebagai penolakan yang dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri pada anak.
Kesederhanaan sering dilakukan oleh anak-anak pada masa apapun. Orang yang lebih dewasa memandangnya sebagai perilaku yang kurang menarik, sehingga anak menafsirkan sebagai penolakan yang dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri pada anak.
2. Bahaya
Psikologi
a. Bahaya dalam berbicara
Kesalahan
dalam berbicara seperti salah ucap dan kesalahan bahasa, cacat dalam bicara
seperti gagap atau pelat, akan membuat anak menjadi sadar diri sehingga anak
hanya berbicara bila perlu saja.
b. Bahaya
emosi
Anak
masih menunjukkan pola-pola ekspresi emosi yang kurang menyenangkan seperti
marah yang meledak-ledak, cemburu sehingga kurang disenangi orang lain.
c.
Bahaya konsep diri
Anak
mempunyai konsep diri yang ideal, biasanya merasa tidak puas pada diri sendiri
dan pada perlakuan orang lain. Anak cenderung berprasangka dan bersikap
diskriminatif dalam memperlakukan orang lain.
d. Bahaya
yang menyangkut minat
Tidak
minat pada hal-hal yang dianggap penting oleh teman sebaya dan mengembangkan.
2.1.5 Kebutuhan Anak Sekolah Dasar
1. Menurut
Soetjiningsih (1998), anak tidak bisa memperjuangkan nasibnya sendiri, mereka
sangat lemah, mereka menderita akibat distribusi sumber daya yang tidak merata
sehingga mereka sangat tergantung bagaimana kita memberikan perhatian khusus
terhadap kebutuhan mereka, salah satu kebutuhan dasar anak antara lain
pendidikan dasar, meliputi meningkatkan kesempatan belajar untuk anak,
pendidikan dimulai sejak dini dilanjutkan dengan pendidikan dasar untuk
meningkatkan kecerdasan bangsa.
2. Menurut
Nelson (1999), kebutuhan anak antara lain:
Keberhasilan atau hygiene dan sanitasi
lingkungan. Hygiene merupakan kebutuhan anak karena bila kebersihan anak
kurang, maka akan mempengaruhi tumbuh kembangnya dan rentan terhadap penyakit.
2.1.6 Konsep Prilaku Anak Usia Sekolah
Menurut Soekidjo Notoatmojo (2003), Usia
6-12 tahun anak sudah memiliki dunia sekolah yang lebih serius walaupun ia
tetap seorang anak dengan dunia yang khas, masa ini ditandai dengan perubahan
dalam kemampuan dan perilaku. Pertumbuhan dan perkembangan anak membuatnya
lebih siap untuk belajar dibanding sebelumnya, anak jiga mengembangkan
keinginan untuk melakukan berbagai hal dengan baik bahkan bila mungkin enggan
sempurna. Karakteristik anak usia sekolah jelas berbeda dengan anak prasekolah
sehingga orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda disbanding
sebelumnya ketika anak masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Karena waktu anak
sekarang lebih banyak dilewatkan diluar rumah sehingga orang tua khwatir anak
tercemar pengaruh yang tidak diinginkan. Perkembangan anak sekolah meliputi
perkembangan kognitif dan sosial emosi.
1.
Perkembangan
Kognitif
Anak
usia 10-12 tahun atau praremaja sudah mulai menggunakan logikanya Karen amereka
sudah mahir berhitung dan kemampuan ini dapat diterapkan dalam kehidupan setiap
hari. Mereka juga mulai bisa diberi pengertian untuk menghemat dengan
memberitahukan secara garis besar pemasukan dan pengeluaran keluarga setiap
bulan anak juga semakin mamapu merencanakan perilaku yang terorganisir, temasuk
menerima rencana atau tujuan beraktivitas dan menghubungkan pengetahuan serta
tindakan dalam rencana tesebut. Perkembangan kognitif pada akhir usia sekolah
adalah pencapaian prestasi dan sebagian anak juga memiliki motivasi yang amat
tinggi untuk mencapai sukses dan berusaha keras untuk mencapainya.
2.
Perkembangan Sosial
Emosi
Akhir
usia sekolah anak sudah memiliki kemampuan untuk mengontrol dirinya dalam
berempati dan merefleksi dirinya terhadap perilaku dan interaksinya. Menurut
piaget anak usia praremaja mulai belajar melihat dunia luar dari kacamata
mereka sendiri karena masalah yang dihadapi saat anak duduk dikelas 4,5, dan 6
Sekolah Dasar pada umumnya adalah kesulitan berhubungan dengan orang dewasa
selain anggota keluarganya. Persaingan dapat memberi pengaruh positif bagi
perkembangan sosial ekonomi anak karena saat anak duduk dikelas 4-6 SD anak
telah memandang kegagalan atau keberhasilannya dengan penuh percaya diri.
3. Keperawatan
Kesehatan Sekolah
Keperawatn kesehatan sekolah merupakan salah
satu area dalam keperawatan komunitas yang lebih difokuskan dalam upaya
pencegahan dan penatalaksanaan penyakit menular dengan menekankan pada upaya
preventif dan kuratif. Perspektif keperawatan sekolah adalah bagaiman
mengintegrasikan konsep kesehatan dalam kurikulum sekolah melalui berbagai
usaha dalam penemuan dini gangguan kesehatan (case finding), upaya pemeliharaan
kesehatan dan lingkungan sekolah. Perawatan kesehatan sekolah berperan
dalam pelaksanaan EPSDT yaitu Early And Periodic Screening, Diagnosis And
Treatment Health Problem.
Program
kesehatan sekolah sangat penting untuk diaplikasikan karena siswa sekolah
sebagai kelompok khusus membutuhkan perlindungan dari berbagai efek buruk
linkungan sekitar mereka. Siswa sekolah juga membutuhkan kesehatan agar dapat
belajar secara efektif, sehingga menjadi sumber daya yang bermutu.Tujuan
kesehatan sekolah difokuskan pada:
1)
Upaya peningkatan
kesehatan dan pencegahan penyakit
2)
Mengidentifikasi
masalah kesehatan dan mencari upaya pemecahan masalah kesehatan.
3)
Memberikan pendidikan
kesehatan tentang pola hidup yang lebih sehat kepada siswa dan keluarga.
Untuk mencapai upaya tersebut
diperlukan program kesehatan sekolah yang komprehensif, meliputi:
1) Pelayanan
kesehatan
2) Pendidikan
kesehatan
3) Peningkatan
kesehatan lingkungan
4) Aktifitas
latihan fisik
5) Pelayanan
bimbingan dan konseling psikologis
6) Pelayanan
makanan yang sehat untuk civitas sekolah
7) Pelayanan
pekerja sosial
8) Tenaga
promosi kesehatan
9) Keterlibatan
orang tua dan masyarakat dalam peningkatan kesehatan sekolah
2.1.7 Pengukuran sikap atau prilaku
Pengukuran sikap atau prilaku dapat dilakukan dengan memberikan
seperangkat alat tes/kuesioner tentang obyek perilaku atau sikap yang akan diukur.
Selanjutnya dilakukan penilaian dimana setiap jawaban yang benar dari
masing-masing pertanyaan diberi nilai 1 jika salah diberi nilai 0 (Notoatmodjo,
2003).
Selanjutnya pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterprestasikan
dengan skala Skor T. Penggunaan praktis dari skor T adalah untuk
mengkategorikan sikap, minat, bakat, motivasi dalam kategori dikotomi yaitu
positif maupun negatif. Pengkategorian didasarkan atas mean T atau media T
dikatakan :
1)
Positif/mendukung
bila skor T responden > mean T
2)
Negatif/tidak
mendukung bila skor T responden < mean T
(Handoko, 2010 : 22)
2.2 Penghargaan (Reward)
2.2.1 Definisi Penghargaan (Reward)
Dalam
bahasa Indonesia disebutkan bahwa ganjaran adalah hadiah (sebagai pembalasan
jasa), hukuman (balasan). Dari definisi ini dapat dipahami bahwa ganjaran dalam
bahasa Indonesia bisa dipakai untuk balasan yang baik maupun yang buruk. Dalam pembahasan
yang lebih luas pengertian istilah ganjaran dapat dilihat sebagai berikut:
1.
Ganjaran adalah
alat pendidikan preventif dan represif yang menyenangkan dan bisa menjadi atau
motivator belajar bagi siswa.
2.
Ganjaran adalah
hadiah terhadap perilaku baik dari anak didik dalam proses pendidikan.
3.
Ganjaran adalah
alat pendidikan represif yang menyenangkan.
Ganjaran diberikan kepada anak yang telah menunjukkan
hasil-hasil baik dalam pendidikannya. Baik dalam hal kerajinannya, kelakuannya,
tingkah lakunnya, dengan singkat, hal-hal yang menyangkut, kepribadiannya,
maupun baik dalam hal-hal berprestasi belajarnya. Atau dapat dikatakan ganjaran
adalah penilaian yang bersifat positif terhadap belajarnya murid (Amir, 2004: 127).
Jadi maksud ganjaran itu yang terpenting bukanlah
hasilnya yang dicapai seorang anak, melainkan dengan hasil yang telah dicapai
anak itu. Pendidikan bertujuan membentuk kata hati dan kemauan yang lebih baik
dan lebih keras pada anak itu.
Jika ganjaran itu alat mendidk, ganjaran tidak boleh
menjadi bersifat sebagai “upah”. Upah ialah sesuatu yang mempunyai nilai
sebagai ganti rugi dari suatu pekerjaan atau suatu jasa. Upah adalah sebagai pembayar suatu tenaga
kerja, pikiran, atau pekerjaan yang telah dilakukan oleh seseorang. Besar
kecilnya upah memiliki perbandingan yang tertentu dengan berat ringannya
pekerjaan atau banyak sedikitnya hasil yang telah dicapai seorang anak yang
pada suatu ketika menunjukkan hasil yang lebih dari pada biasanya, mungkin
sangat baik diberi ganjaran. Dalam hal ini guru hendaknya bijaksana jangan
sampai ganjaran itu menimbulkan iri hati pada anak yang lain yang merasa
dirinya lebih baik atau pandai, tetapi tidak mendapat ganjaran. Adakalnya
seorang guru perlu pula member ganjaran kepada seluruh kelas (M. Ngalim Purwanto, 2003: 182).
Jadi dapat disimpulkan bahwa reward adalah suatu cara yang digunakan oleh seseorang untuk
memberikan sutu penghargaan kepada seseorang karena sudah mengerjakan suatu hal
yang benar, sehingga seseorang itu bias semangat lagi dalam mengerjakan tugas
tersebut. Contohnya seorang guru telah memberikan penghargaan atau pujian
kepada siswannya yang telah menjawab pertanyaan dengan baik, maka siswa itu
semangat lagi dalam mengerjakan tugas.
Reward
merupakan respon terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan
terulang kembali perilaku tersebut. Reward
dapat dilakukan secara verbal ataupun non verbal dengan prinsip kehangatan,
keantusiasan dan kebermaknaan (Mulyasa, 2011: 77).
Reward
ialah respon positif terhadap suatu tingkah laku tertentu dari siswa yang
memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali (Buchari Alma, 2008: 30).
Dalam kegiatan belajar mengajar, reward (penguatan positif) mempunyai arti penting. Tingkah laku dan
penampilan siswa yang baik, diberi penghargaan dalam bentuk senyuman ataupun
kata-kata pujian. Pemberian reward
dalam kelas akan mendorong siswa meningkatkan usahanya dalam kegiatan belajar
mengajar dan mengembangkan hasil belajar (Mulyadi, 2009: 36).
2.2.2 Tujuan Reward
Menurut Buchari Alma tujuan dari adanya reward yaitu:
1.
Meningkatkan
perhatian siswa.
2.
Memperlancar
atau memudahkan proses belajar.
3.
Membangkitkan
dan mempertahankan motivasi.
4.
Mengontrol dan
mengubah sikap suka mengganggu dan menimbulkan tingkah laku belajar yang
produktif.
5.
Mengembangkan
dan mengatur diri sendiri dalam belajar
6.
Mengarahkan
kepada cara berfikir yang baik/ divergen dan inisiatif pribadi.
(Buchari Alma, 2008: 30)
Menurut Mulyadi adapun komponen-komponen yang perlu
dipahami dan dikuasai penggunannya oleh guru agar ia dapat memberikan penguatan
secara bijaksana adalah:
1.
Penguatan variabel
yaitu penguatan berupa kata-kata, pujian, pengakuan, dorongan yang dipergunakan
untuk menguatkan tingkah laku dan penampilan siswa.
2.
Penguatan non
variabel yaitu penguatan berupa mimik dan gerakan badan, penguatan dengan cara
mendekati, penguat dengan bentukan, penguat dengan kegiatan yang menyenangkan
dan penguat berupa symbol atau benda.
(Mulyadi, 2009: 37)
Menurut Buchari Alma komponen reward terdiri dari:
a.
Verbal Reinforcement meliputi komentar ungkapan pujian seperti baik, bagus, hebat, benar
sekali.
b.
Gestural Reinforcement meliputi senyum, mengangkat alis, tepuk tangan,
menunjuk, anggukan.
c.
Proximity
reinforcemen meliputi berjalan mendekati, berdiri didekati, duduk dekat
kelompok, berdiri diantara siswa.
(Buchari
Alma, 2008: 31)
2.2.3 Macam-Macam Reward
Menurut Amier Daien ganjaran yang kita berikan kepada
murid dapat berupa macam-macam. Namun pada garis besarnya, kita dapat
membedakan ganjaran itu kedalam empat macam yaitu:
1)
Pujian
Pujian
adalah suatu bentuk ganjaran yang paling mudah dilaksanakan. Pujian dapat
berupa kata-kata seperti: baik, bagus, bagus sekali dan sebagainya, tetapi
dapat juga berupa kata-kata yang bersifat segustif, misalnya: nah, lain kali
akan lebih baik lagi, kiranya kau sekarang telah lebih rajin belajar dan
sebagainya. Disamping yang berupa kata-kata, pujian dapat pula berupa
isyarat-isyarat atau pertanda-pertanda. Misalnya dengan menunjukkan ibu jari
atau jempol, dengan menepyuk bahu anak, dengan tepuk tangan dan sebagainya.
2)
Penghormatan
Ganjaran
yang berupa penghormatan ini dapat berbentuk dua macam pula. Pertama berbentuk
semacam penobatan. Yaitu anak yang mendapat penghormatan diumumkan dan
ditampilkan dihadapan teman-temannya. Dapat juga dihadapkan teman-teman sekelas
maupun temen-teman sekolah. Kedua, penghormatan yang berbentuk pemberian
kekuasaan untuk melakukan sesuatu. Misalnya, kepada anak yang berhasil
menyelesaikan suatu soal yang sulit, disuruh mengerjakannya dipapan tulis untuk
dicontoh teman-temannya. Anak yang rajin diserahi wewenang atau tugas mengurus
perpustakaan sekolah.
3)
Hadiah
Yang
dimaksud dengan hadiah disini adalah ganjaran yang berbentuk pemberian yang
berupa barang. Ganjaran yang berupa pemberian barang ini disebut juga ganjaran
materil. Ganjaran materil, yaitu hadiah yang berupa barang-barang ini dapat
terdiri dari alat-alat keperluan sekolah, seperti pensil, penggaris, buku
tulis, buku pelajaran, dan lain sebagainya. Pemberian ganjaran yang berupa
barang ini sering mendatangkan pengaruh yang negative pada belajar siswa. Yaitu
bahwa hadiah itu lalu menjadi tujuan dari belajar anak. Anak belajar bukan
karena ingin menambah pengetahuan, tetapi belajar dengan tujuan ingin mendapatkan
hadiah. Jadi berikan hadiah berupa barang ini jika dianggap perlu, dan pilihlah
pada saat yang tepat. Misalnya, kepada anak yang kurang mampu, menjelang waktu
Hari Raya Tahun Baru.
4)
Tanda
Penghargaan
Jika
hadiah adalah ganjaran yang berupa barang, maka tanda penghargaan adalah
kebalikannya. Tanda penghargaan tidak nilai dari segi harga dan kegunaan
barang-barang tersebut, seperti halnya pada hadiah. Melainkan, tanda
penghargaan dinilai dari segi kesan atau nilai-kenagnya. Oleh karna itu
ganjaran atau tanda penghargaan ini disebut juga ganjaran symbolis. Ganjaran
symbolis ini dapat berupa surat-surat tanda penghargaan, surat-surat tanda dan
jasa, sertifikat-sertifikat, piala-pialandan sebagainya.
(Amir, 2004: 159)
Menurut M. Ngalim Purwanto untuk menentukan ganjaran macam apakah yang
baik diberikan kepada anak merupakan suatu hal yang sulit. Ganjaran sebagai
alat pendidikan banyak sekali macamnya. Sebagai contoh beberapa macam perbuatan
atau sikap pendidik yang dapat merupakan ganjaran bagi anak didiknya:
1.
Guru mengangguk-angguk
tanda senang dan membenarkan sesuatu jawaban yang diberikan oleh seorang anak.
2.
Guru memberi kata-kata
yang menggembirakan (pujian) seperti “rupanya sudah baik tulisanmu, Min. Kalau
kamu terus berlatih, akan lebih baik lagi.
3.
Pekerjaan dapat juga
menjadi suatu ganjaran. Contoh: “ engkau akan segera saya beri soal yang lebih
sedikit sukar lagi, ali, karena yang nomor 3 ini rupa-rupanya agak terlalu baik
engkau mengerjakannya.
4.
Ganjaran yang
ditunjukkan kepada seluruh kelas sangat perlu. Misalnya “ karena saya lihat
kalian telah bekerja dengan baik dan lekas selesai, sekarang saya akan
mengisahkan sebua cerita yang bagus sekali”. Ganjaran untuk seluruh kelas dapat
juga berupa bernyanyi atau pergi berdarmawisata.
5.
Gajaran dapat juga
berupa benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak-anak. Misalnya,
pensil, buku tulis, gula-gula atau makanan yang lain. Tetapi dalam hal ini guru
harus sangat berhati-hati dan bijaksana sebab dengan benda-benda itu mudah
benar ganjaran berubah menjadi upah bagi siswa.
(M. Ngalim
Purwanto, 2005: 183)
2.2.4 Prinsip-Prinsip
Pengunaan Reward
Menurut
Buchari Alma prinsip pengguna reward
yaitu:
1.
Penuh hangat, antusias
dan jujur.
2.
Hindari kritikan dan
hukuman.
3.
Bervariasi.
4.
Penuh arti bagi siswa.
5.
Bersifat pribadi.
6.
Langsung atau segera.
( Buchari Alma, 2008: 32)
Menurut
Mulyadi beberapa prinsip yang melandasi penggunaa reward yaitu:
1.
Kehangatan.
2.
Kebermaknaan.
3.
Menghindari penggunaa
respon negatif
(
Mulyadi, 2009: 39).
2.2.5 Syarat-syarat ganjaran
Kalau
kita perhatikan yang telah diuraikan tentang maksud ganjaran, bilamana dan
siapa yang perlu mendapat ganjaran, serta ganjaran-ganjaran macam apakah yang
baik diberikan kepada seseorang, ternyata bahwa memberi ganjaran bukanlah soal
yang mudah. Ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan oleh pendidik:
1.
Untuk memberi ganjaran
yang pedagosis perlu sekali guru mengenal betul murid-muridnya dan tahu
mengarahi dengan tepat. Ganjaran dan penghargaan yang salah dan tidak tepat dapat
membawa akibat yang tidak diiiginkan.
2.
Ganjaran yang diberikan
kepada seorang anak janganlah hendaknya menimbulkan rasa cemburu atau iri hati
bagi anak yang lain yang meradsa pekerjaanya juga lebih baik, tetapi tidak
mendapat ganjaran.
3.
Memberi ganjaran
hendaknya hemat. Terlalu kerap atau terus menerus memberi ganjaran dan
penghargaan akan menjadi hilang arti ganjaran itu sebagai alat pendidikan.
4.
Jangan memberi ganjaran
dengan menjanjikan lebih dahulu sebelum anak-anak menunjukkan prestasi
kerjannya apa lagi bagi ganjaran yang diberikan diseluruh kelas. Ganjaran yang
telah dijanjikan terlebih dahulu, hanyalah akan membuat anak-anak berburu-buru
dalam bekerja dan akan membawa kesukaran bagi beberapa orang anak yang kurang pandai.
5.
Pendidik harus
berhati-hati memberikan ganjaran, jangan sampai ganjaran yang diberikan kepada
anak-anak diterimannya sebagai upah dari jerih payah yang telah dilakukannya.
(Mulyadi, 2009:184).
2.2.6
Cara
mengaplikasikan ganjaran
Berbagai
macam cara yang dapat dilakukan dalam memeberi ganjaran antara lain:
1.
Pujian yang indah,
diberikan agar anak lebih bersemangat dalam belajar.
2.
Imbalan materi atau
hadiah, karena tidak sedikit anak-anak yang termotivasi dengan pemberian
hadiah.
3.
Doa, misalnya “semoga
Allah SWT menambah kebaikan padamu “.
4.
Tanda penghargaan, hal
ini sekaligus menjadikan kenang-kenangan bagi murid atas prestasinya yang
diperoleh.
5.
Wasiat kepada orang
tua, maksudnya melaporkan segala sesuatu yang berkenan dengan kebaikan murid
sekolah, kepada orang tuannya dirumah.
(Arief
Armai, 2002: 127)
2.2.7 Kelebihan dan Kekurangan
Sebagaimana
pendekatan-pendekatan pendidk yang lainnya, pendekatan ganjaran juga tidak bisa
terlepas dari kelebihan dan kelemahan. Untuk lebih jelasnya, akan dikemukakan
sebagai berikut:
1.
Kelebihan
Diakui
bahwa pendekatan ganjaran memiliki banyak kelebihan, namun secara umum dapat
disebut sebagai berikut:
a)
Memberikan pengaruh
yang cukup besar terhadap jiwa anak didk untuk melakukan perbuatan yang positif
dan besifat progresif.
b)
Dapat menjadi pendorong
bagi anak-anak didik lainnya untuk mengikuti anak yang telah memperoleh pujian
dari gurunya, baik dalam tingkah laku, sopan santun ataupun semangat dan
motivasinya dalam berbuat yang lebih baik lagi.
2.
Kekurangan
Disamping
mempunyai kelebihan pendekatan ganjaran juga memiliki kelemahan antara lain:
a)
Dampak menimbulkan
dampak negatif apa bila guru melakukannya secara berlebihan, sehingga mungkin
bisa mengakibatkan murid menjadi merasa bahwa dirinya lebih tinggi dari
teman-temannya.
b)
Umumnya ganjaran
membutuhkan alat tertentu
(Mulyadi,
2009 :
128).